Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Februari 2013

RASA KITA

Pasca Shalat Ied di Lap. Gasibu



Sang mentari belum berani membuka diri
Meski hari telah berganti karena sang waktu tetap berlari
Di pagi yang dingin ini
Sebuah mimpi telah terpatri
Segenggam niat dipegang erat
Untuk berjanji sehidup semati seia sekata

Tujuh tahun mungkin waktu yang singkat jika berbanding dengan usia kehidupan
Tetapi tujuh tahun menjadi begitu bermakna
Manakala disyukuri
Manakala ditafakuri
Manakala disadari
Bahwa semua adalah Kehendak Illahi

Suka dan duka bersama kita hadapi
Egoisme diri telah berbaur menjadi cinta sejati
Kekurangan menjadi saripati keikhlasan
Kelebihan adalah alarm untuk selalu bersyukur

Jangan ragu atas semua yang sedang terjadi
Jangan bimbang atas derita yang dirasa
Kita akan tetap saling menjaga
Bersama meraih asa

Maafkan jika diriku belum bisa membahagiakanmu
Tapi segenap rasa dan ihtiar tentu terus dipacu untuk kesembuhan dan kebahagiaan dirimu, untuk kita.

Semoga untuk selanjutnya
Kita bisa bersama-sama
Mengarungi bahtera dunia
Sambil menabung pahala sebagai bekal di alam sana
Dalam kondisi sehat, kaya, ceria dan bahagia.

Ammiin YRA
RSHS RIK 402
12 Februari 2013


..... untuk istriku tercinta Intan C'est Moi.

Sabtu, 02 Februari 2013

Termangu

Seikat waktu menyapa alam
Mencuri tabir masa silam
Berarak mega sentuh nurani
Berpadu janji mengikat hati

Dua waktu telah terlangkah
Menyela penyesalan diharap berkah
Sekali berucap pantang bersikap
Meski semua bertabur harap

Santun mengisi jiwa bersemi
Rela berlabuh membelit janji
Sabar mengalir ikuti kata hati
Mengais serpihan kasih tertatih

Sentuhan senja beranjak sirna
Berganti gelap menerkam sukma
Mengoyak dalam, tandai makna
Janji terpana berlabuh duka

Rangkaian kata tinggal kenangan
Mengejar bayang yang telah hilang
Separuh rasa telah tenggelam
Disebagian anugerah kelam.

Kamis, 31 Januari 2013

Menggugah Syukur

Knapa muncul rasa terpenjara?
Knapa menjadi rasa tersiksa?
Bukankah dirimu penyabar yang perkasa?

Jangan hancurkan semua pengorbanan 

karena godaan kecil kehampaan 
yang selalu menghampiri dengan senyuman.

Jangan korbankan tahunan waktu bersama

yang terjalin nyaris sempurna musnah karena egoisme semata.

Jangan hilangkan kepercayaannya selama ini 

untuk selalu bersandar dan menggantungkan diri padamu 
hanya karena melihat orang lain hidup normal dan 'mungkin' bahagia?

Jangan memvonis diri untuk sebuah kesalahan masa lalu 

yang seolah menghantui karena pintu maaf itu beraneka rupa.

Jangan memojokkan diri menjadi sebuah ketidakadilan 

dalam kehidupan padahal anugerah Tuhan begitu mudah diberikan.

Manusiawi kalau muncul rasa bosan
Dimaklumi kalau merasa diberi sebuah beban atau cobaan

Tapi ingat...

Kunci sebetulnya sudah paham
Sering terngiang dan selalu terucapkan,
Namun betapa berat manakala harus dilaksanakan

Yakinkan Allah punya rahasia jawaban yang terbaik, 

tinggal kuatkah hambanya menjalaninya?.

Sabar dan ikhlas terngiang kembali, banyak bersyukur adalah obat yang pasti.

 let's do it again.

Kejujuran bertajuk pilu



Secercah belenggu mengulum semu
Terurai berpadu bentuk harmoni pilu
Santun beralih menuai badai kesukaran
Rela menapak merajut jalinan kebencian

Jangkauan raga merebak ditebar sukma
Raga berkelit memilih makna yang terbuka
Prasangka berbalik arah tanpa rencana
Berulah maju satukan batin dalam luka

Kejujuran tak cukup tunjukan sikap setia
Kejujuran mengoyak kasih suci yang terlena
Kejujuran mengubah nurani menjadi benci
Kejujuran musnahkan harap diam terpatri

Mengapa kejujuran menjadi pangkal kebencian?
Mengapa kejujuran membentuk kehancuran?
Mengapa kejujuran ?
Mengapa ……………… ?

Barangkali meniti silaturahmi bukan itu yang berbunyi
Biarlah kejujuran mendapat tempat di setiap bingkai insani
Simpanlah kejujuran untuk melihat lagi mentari dilain hari
Karena (mungkin) waktu ini…
Bukan saatnya kejujuran membuka diri
Tapi nurani yakinlah …. Kejujuran adalah pintu kebahagiaan.

Rabu, 30 Januari 2013

TATAPAN RASA

Menatap jalan perjuangan hampir usai
Menyentuh ilmu penentu di jalinan waktu
Menggugah diri berakar hakikat nurani
Meraih harap yang terbentang diam berseri

Mengapa diakhir perjuangan sesuatu mengganjal?
Mengapa diujung peluh kemauan muncul keinginan?
Mengapa janji terkikis suasana keindahan duniawi?
Mengapa bayang bersuka menyentuh wajah nan asri?

Haruskah kuberikan sisa waktu ini untuknya?
Mestikah kutelan air liur kepastian yang telah menyatu dengan alam
Diserabut kebimbangan semu?

Haruskah?

Satu rasa membelenggu nuraniku
Merajut janji di lain hari, meski awan tetap bersemi
Semisal angin meraih mimpi
Waktu dan tanah melapis kasih
Menjadi satir bergema risi

Kusadari…. Ini bukan akhir perjuangan
Tapi awal yang singkat untuk memahami kehidupan
Membuka perjuangan yang sebenarnya
Penentu jiwa untuk Berjaya di masanya

Biarkan rasa ini menjadi penghias jalinan jiwa
Yang kaya dengan sedih, suka dan rasa …. Inikah cinta?.