Tampilkan postingan dengan label kompasiana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kompasiana. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Juli 2014

*** Presiden Kita Siapa? ***


Kebingungan menjadi milik khalayak ramai, tidak hanya bicara elit politik atau tim sukses saja tetapi sudah merasuk kepada masyarakat dengan bantuan media baik penyiaran, cetak ataupun media daring. Pokok kebingungannya tentu berkaitan dengan perhitungan hasil pasca pencoblosan tanggal 9 april 2014 lalu. Secara pribadi awalnya berharap bahwa di tanggal tersebut, segala macam perbedaan dan tindakan saling menekan antara dua pihak yang mendukung calon presiden dan wakil presiden masing-masing akan reda. Terutama dua media televisi yang begitu gencar menjadi bagian penting dalam proses kampanye untuk menebar harapan dengan berbagai program untuk meraih hati masyarakat dan memantapkan masyarakat dalam menjatuhkan pilihan hak politiknya.

Selasa, 15 Oktober 2013

***Lupakan Masalahmu, Mari Bergoyang***

Suara musik dangdut yang keras ditingkahi tepuk tangan penonton memompa semangat biduan lokal bergoyang dan bernyanyi dibalut rok mini dan stoking sewarna kulit sambil tak henti mengajak hadirin untuk berdendang dan menggerakan anggota badan.

Empat pemuda dan tiga orang tua berjoged dengan gaya seenaknya menikmati alunan musik yang berkumandang tiada hentinya. Meskipun sering petugas keamanan menarik keluar arena karena tingkah dan gerakan yang tidak terkontrol. Apa sebab? Sepintas dapat dilihat bahwa para penjoged sedang teler karena menenggak minuman keras. Mata merah ketawa dan senyum sendiri sambil bergoyang mengejar alunan nada yang menggema di relung kehidupan dan mengantar pasangan pengantin baru memasuki hutan belantara kehidupan bersama yang sebenarnya.

***Akil Mochtar tertangkap basah atau Tertangkap tangan?***

Mengamati, melihat dan mendengarkan ataupun tak sengaja mendengar di radio dan televisi beberapa hari ini sangat erat dengan keterkejutan banyak pihak kaitan penangkapan Bapak Akil Mochtar Ketua Mahkamah Konstitusi. Meski untuk selanjutnya saya akan menulis Akil Mochtar saja karena rasa hormat kepada beliau telah musnah seiring dengan kejadian yang mengguncang seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya di bidang supremasi hukum.

Ingin menulis dari sudut pandang hukum dan tata negara. Tetapi secara kompetensi banyak yang lebih pantas untuk hal itu seperti yang telah dilansir di berbagai media dan menghiasi serta mendominasi pemberitaan 3-4 hari ini. Jadi sisi lain saja yang mungkin tidak menarik bagi yang lain tetapi menarik bagi diriku ini.