Jumat, 09 September 2016

Balik deui


Cimata nu geus ngeclak dina awak, ngadon hayang balik deui kana panon. Buru-buru panon dirapetkeun. Cimata hahéhoh nanjak , tuluy ngetrokan kulit panon bari milihan bulu halis nu susuganan bisa dipaké keur pakarang. Sawaréh ngiuhan heula dina jero rorompok korong, ngadon badami kumaha carana sangkan bisa asup deui, kana panon nu peureum waé geus mulan malén. “Uing boga akal, ieu wé bulu irung urang beulit-beulit, tuluy geus badag mah rojokeun waé kana sisi panon beulah kénca atawa katuhu, bakal muka geura”.

minyakairmataduyung-com

Sanggeus sapuk kana kamufakatan, tingkalacat cipanon kaluar tina rorompok korong. Lalaunan nérékél muru kongkolak panon bari mawa bulu irung nu salin jinis jadi gantar. Coss... kénca katuhu ditojos, panon beunta sajorélat. Cimata tibuburanjat hayang asup kana panon, hanjakal di jero panon geus loba cimata anyar, nu bedah lir caah déngdéng. Kabéh kabawa palid ngaliwatan puhu irung, kana biwir, ngeclak tina gado maseuhan sakujur awak. Lantis sapuratina. Cimata ngambah sagara. 

Special drink at the Night


Siang yang terik membara di bilangan Jakarta pusat terasa begitu menyiksa raga. Bukan tidak bisa ngadem di dalam lobby hotel yang full AC tetapi harus bolak balik membawa berkas dari mobil dinas bupati kembali ke lantai 4 hotel Sahid yang digunakan untuk rapat terbatas Pak Bupati. Sopir sebetulnya bisa saja diberdayakan, akan tetapi urusan berkas pasti tidak terlalu paham. Ntar salah ngambil khan berabe. Bisa disemprot luar dalam sama bupati. Mungkin juga bahasa kebun binatang berhamburan menyentil perasaan. Akhirnya lebih baik bersimbah keringat karena bolak balik ke area parkir terbuka yang letaknya lumayan jauh dari hotel lalu kembali ke lantai 4 dan hampir 5 kali bolak balik, aggap aja olahraga siang.
ini sih Camri Facelift 2015... indonesiaautosblog-com

Seiring adzan asyar berkumandang, rapatpun berakhir. Bapak Bupati telah duduk bersandar di jok belakang  Camry hitam. “Ayo kita pulang ke Bandung, langsung ke Hotel Sheraton ya Pak Carda” Pak Bupati bersabda. “Siap pak!” sang sopir setia menjawab tegas sambil mata tetap fokus pada kemudi dan kondisi lalu lintas di depannya. Diriku duduk di depan disamping kiri sopir, diam tetapi waspada.

Satu hal yang menjadi aturan tidak tertulis dengan bapak bupati adalah seminimal mungkin membuka percakapan kecuali laporan darurat. Namun kalau ditanya oleh Bupati maka harus menguasainya secara komprehensif atau rumus 5W 1Hnya musti terpenuhi. Karena bupatiku ini termasuk golongan perfeksionis, sagala kudu sampurna. Sering terngiang doktrinnya, “Meski kamu bukan malaikat, tetapi harus mengerjakan hal dengan sempurna!!!”

Selama perjalanan hampir tiada percakapan berarti, camry melaju membelah kota Jakarta menuju bandung kota tercinta. Mungkin beliau lelah dengan aktifitas meeting hari ini sehingga tertidur nyenyak, indikatornya adalah dengkuran yang teratur serta tidak ada pertanyaan-pertanyaan mendadak. Diriku ingin ikut memejamkan mata barang sesaat, tetapi khawatir beliau terbangun dan bisa berabe jika mendadak bertanya disaat sedang terbuai mimpi. Akhirnya coba menahan kantuk dengan menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Sesekali membuka handphone dinas untuk megecek sms masuk. belum seperti sekarang yang serba canggih, saat itu baru sms dan  telepon saja yang menjadi sarana penting berkomunikasi dengan handphone.

Rabu, 24 Agustus 2016

“Emang ada BPR punya Pemerintah ?”


Pertanyaannya sederhana tetapi jawabannya bisa sangat kompleks, tapi ya memang begitulah prinsip pertanyaan dan jawaban alias Q&A (questions & answer). Kegunaan bagi diri sendiri yang sudah beranjak dewasa eh menua yaitu agak susah menghapal pasal pasal dalam regulasi yang ada padahal udah bolak balik tuh baca Undang-undang, PP dan POJK (Peraturan Otoritas Jasa keuangan). Nah siapa tau bisa bantu juga teman-teman yang baca tulisan ini kaitan tentang BPR, LKM yang berhubungan dengan pemerintah daerah. Karena BPR itu khan dianggap milik swasta aja, padahal ada lho dan buanyak BPR milik pemerintah.

Coba jawab yaah....

Berhubung diriku di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, jadi jawabannya adalah BPR atau Bank Perkreditan Rakyat yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Pemprov Jabar.  Tetapi sebagai pengetahuan ya kita lihat dari keseluruhan dulu yakni secara nasional bahwa hingga Juni 2016 terdapat 1.641 buah BPR seluruh Indonesia dengan total aset Rp 105.860.438.133.000,- (sumber : www.bi.go.id) .. jumlah yang asyik bukan?

Nah untuk statistik BPR di Provinsi Jawa barat bulan Juni 2016 adalah 266 buah BPR dan  aset sebesar Rp 16,429,074,616.000,- atau supaya gampang besaran asetnya 16,43 Triliun, triliun bro... nolnya banyaaak. Klo di Provinsi Banten ada 65 buah BPR dengan aset sebesar Rp 2.337.309.697.000,- jadi kalau di jumlah untuk di Provinsi Jabar dan Banten terdapat 331 BPR dengan jumlah aset 18,76 Triliun. Dengan catatan  jumlah ini tidak bicara milik pemerintah atau swasta tapi campur dan mayoritas milik swasta. Trus ngapain seeh kok BPR di Provinsi Banten diitung juga?...

Ini jawabannya :

Data bulan Agustus 2016, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memiliki sebagian saham di 32 BPR yang tersebar di Kabupaten di wilayah Provinsi Jawa barat dan Banten. Karena pada saat pendirian dahulu kala, Banten belum terpisah dan masih menjadi bagian dari wilayah Provinsi Jawa Barat. Total Aset dari 32 BPR tersebut hingga 31 Desember 2015 berjumlah Rp 1.784.507.736.197,- atau 1,78 Triliun. Gede khan?.... tapi klo dibagi dengan jumlah BPRnya atau di rata-ratain ya sekitar Rp 55,77 Miliar. Padahal jumlah asetnya variatif dari yang 200 miliar hingga yang 2 Milyar.

Jangan ngiler dulu yach, soalnya kepemilikian Pemprov Jabar hanya sebagian saja. Karena kepemilikan sahamnya bersama-sama dengan Pemerintah Kabupaten dan PT Bank Jabar Banten.

Selain itu masing-masing Pemerintah Kabupaten dan Kota memiliki juga BPR yang sahamnya dimiliki 100 persen oleh Pemkab/kota. 

Jadi kesimpulannya BPR milik pemerintah itu ada lho.


Ntar dilanjut yach... ngantuuuk.

(G15-02.04wib-240816)

 


Senin, 22 Agustus 2016

Nepangan salira


Hareugeueun nampi wartos wiréhna salira teu aya. Padahal tos  ngorbankeun sagala rupa. Panjurung kalbu paréntah rasa teu meunang tamaha kana wiwaha. Pikeun unggah gunung meuntasan sagara. Leumpang nguntuy mulan malén, teu nolih kana sagala rupa warna nu aya. Istuning tuhu kana papagah Apa, pikeun nepangan salira.

Nu nawisan linggih tos aya belasannana. Nu ngolo ku jabatan ogé rabeng bari duka aya naon di pengkerna. Pon kitu deui ku banda sareng parawan désa, dugika nyeri beuheung da gigideug teu aya eureunna. Ku cara sopan teu tiasa aya ogé nu nyobi ngabegal tur ngagunasika, alhamdulillah jurus ‘saépi angin’ jeung ‘halimunan’ bisa nyalametkeun kaula. Teu hilap manteng du’a ka Mantenna.

Ayeuna, awak leuleus haté lungsé. Sabab sagala ihtiar téh ukur ditampi ku lawang kosong. Da salira teu aya. Teu lila haté ngadadak panas, nyel ambek nu taya papadana. Hayang ngancurkeun nu aya. Sajorélat kakuping deui papagah Apa, “Élmu sabar nu sesah naékannana.”

Senin, 25 Juli 2016

PNS bahagia

“Hebat dia, sudah kerja mantep sebagai pns, jabatan eselon juga dapet nyambi juga jadi dosen di perguruan tinggi swasta ternama. Atau pak Z selain sebagai pns juga memiliki beberapa usaha yang menjanjikan, pasti berlimpah tuh penghasilan”, Begitulah suara hati pagi ini, sementara berkaca pada diri hanya seorang pns, titik. Lamunan berlanjut dengan mengira-ngira penghasilan rekan-rekan pns lain atau malah staf baru yang baru beberapa tahun diangkat pns sekarang begitu sukses dalam karier dan kehidupan pribadinya. Ada cengkeraman rasa minder menelikung dalam sanubari, “Ah sayah mah jalani aja seperti ini...” sambil tertunduk sedih.

Belum lagi kalau melihat, rekan pns lain yang terlihat begitu ceria dan bahagia. Ke kantor dengan mobil keluaran baru, smartphone yang kinclong dan rumahnya yang megah. Betapa penyakit sirik dan dengki itu begitu mudah tumbuh dan diawali dengan suudzon. Padahal mungkin saja itu bisa dimiliki karena memang sudah kaya sebelumnya, atau mendapatkan warisan atau bisa juga pinjam uang ke bank dan pintar mengatur strategi untuk memanfaatkannya termasuk memiliki usaha yang memang menguntungkan. Tapi bisa juga memang maksain supaya keliatan punya. Masalahnya adalah kenapa kita mikirin kekayaan orang lain?.....

Sementara dibelahan waktu yang berbeda, berjuta orang mendamba menjadi seorang pegawai negeri sipil atau aparatur sipil negara (ASN) sekarang. Berjuang dengan bersungguh hati dan tidak sedikit yang terjebak iming-iming oknum dengan alibi mempermudah proses menjadi pns yang berujung hanyalah sebuah modus penipuan yang memanfaatkaan keinginan seseorang untuk merebut satu posisi masuk pns. Termasuk tidak sedikit yang sudah bekerja di sektor swastapun masih mengadu peruntungan untuk mencoba ikut testing jika ada lowongan menjadi pegawai di pemerintahan.

Cara yang terbaik adalah bersyukur dan bersyukur..... dengan apa yang sudah kita dapatkan yang hakikatnya hanya dititipkan sementara oleh Allah Subhanahu Wataala. Jika memang kita sulit untuk lulus tes masuk pns, mungkin memang bukan takdir kita disana. Ada jalan lain ada usaha lain yang menunggu kita untuk bergerak tekun dan bekerja keras, disana ada rejeki berlimpah yang menanti kita. Begitupun jika sudah menjadi pns tetapi kok liat yang lain lebih sukses, segera beristigfar karena menjadi pns itu penuh perjuangan. Sekarang belajar bersyukur, belajar memaknai tugas fungsi sebagai pns. Karena belum tentu apa yang kita lihat dari kehidupan pns lain yang kita anggap sukses adalah benar-benar sukses.

Kita jalani pekerjaan dengan ikhlas dan jadikan niat serta action bahwa apa yang kita kerjakan dalam kepe-en-esan ini adalah bagian dari ibadah kita kepada Sang Maha Pencipta. Dengan bersyukur kita akan bahagia.... cobian geura.

Gdb-dpn22-250616

Jumat, 15 Juli 2016

Hampura Nyai


Felis Bengalensis (Latin)
Gégéroh bari cingogo pipireun imah karék dimimitian. Ma’lum imah ngan sacangkéwok, jadi tampian aya di luar. Curuk ngadoléwak sabun colék, lebu ngagabung supaya seuseut. Kareungeu dina suhunan sora léngkah ngadeukeutan, antaré tur lalaunan. Haté ngadadak ratug tutunggulan, “Ah paling gé beurit” gerentes téh bari anteng mencrong kana ringkok kumbahaneun. Gigireunna aya baskom leutik eusi cai, kaciri ngagurilap kapentrang kingkilaban nu muka panineungan. Sajorélat beungeut anjeun aya hareupeun, dina cai baskom, dina ringkok jeung nu pasti mah dina jero haté nu pangjero-jerona.
“Astagfirullohal Adzim!!!”, Uing gigideug ngencarkeun lamunan nu mimiti ningker pipikiran ngaganggu rasa jeung jiwa. Miceun harepan bagja nu ngan ukur pupulasan. Teu loba carita leungeun rikat mersihan sagala rupa sangkan gancang ninggalkeun tampian.

Léngkah dina suhunan karasa ngadeukeutan, teu lila jempling. Tapi jempling nu matak muringkak bulu pingping, sabab gigireun kaciri ku juru panon aya nu nagog bari mencrong moncorong. “Hampura nyai nya kang”, Nu nagog carinakdak bari ngagaur.  

Sabtu, 02 Juli 2016

Ulah Kecing

nyandak ti : Duddydotwebdotid

“Sok atuh balaka wé ka dunungan ti batan cilaka ka hareupna!”
“Can kumpul kawani euy, sieun si Obos ngadat”
“Laah teu kudu di dramatisir, kudu boga prinsip mun urang yakin dina jalan bebeneran”
“Aing gé keuheul ngan keur nimbang-nimbang hadé goréngna lur”
“Ah sia mah kecing, loba teuing mikir!!!”
Mahmud garo garo teu ateul, panas kulit beungeut jeung daun ceulina ngadéngé Jang Sarmud kitu teh. Lain teu wani ieu ogé, tapi pan nu disanghareupan téh dunungan. Nu tangtu kudu lantip tur ati-ati.
“Tuh nya ngadon ngahuleng” Jang Sarmud mairan deui.  “Gandéng lur, geus jempé. Anggur du’akeun sugan aya jalan komo meuntas.” Mahmud nyabar nyabarkeun manéh padahal geus hayang ngababét babaturanna nu riweuh waé.
Isukna Jang Sarmud rawah riwih, “Mahmuuud aing boga dosa naon?  Naha bet di pindahkeun jadi ngajar di tempat nu jauh timana mendi, teu adil dunungan téh!!”

Mahmud tungkul bari nyekel SK anyar, diistrénan jadi Kasi ngaganti dununganna.

Rabu, 08 Juni 2016

Ngawangkong

source : thehattainstitutedotcom
Di golodog masigit swallow jeung babaturnna ngawangkong, “Cekéng gé bulan puasa mah jadi remen urang papanggih di dieu” Selop kulit unggeuk bari nyéréngéh, “Bulan kamari mah urang panggihna di toko tuak nya ang heu heu heu.” Keur anteng ngawangkong datang tarumpah, “Hallow ki sobat, calageur yeuh?” “Damang gan, kumaha sawalerna?” Duana ngajawab babarengan.

“Nya kitu wé kukurilingan ngabagi pangaweruh, geus nyaho can yén bulan puasa téh aya tilu tujuan?”
“Acan gan!!”
“ Nu kahiji néang ampunan, nu kadua hayang jadi jelema takwa jeung nu katilu améh bisa panggih jeung Gusti Allah di ahérat engké mun geus maot dina kaayaan bagja.”
“Anyiiir agan meuni jero kitu tah kana bagbagan puasa, hédéd lah” Swallow némpas, selop kulit ukur imut.

Nu keur guntreng langsung jempé, ngarapihkeun posisi séwang-séwangan sabab tarawéhan geus  lekasan. Selop kulit dipaké ku pa ustad, swallow mah ku Ulis. Tingal tarumpah ngahuleng, “Jigana bener uing mah geus dilapurkeun”.

Selasa, 07 Juni 2016

Lampah Hadé


source :wwwdotwinesiadotcom
“Dina sasih romadhon mah sagala ucap lampah nu hadé téh meunang pahala mangtikel-tikel, komo deui ibadah mah, hayu urang paréa-réa nyieun kahadéan”  Ustad Romli mungkas kuliah subuh dina poé munggaran romadhon. Uing ngaregepkeun jeung diniatkeun nyieun kahadéan poé ieu. Kabeneran sakola mah peré saminggu, atuh resep wé ulin ka pasir ngadon langlayangan. Bada lohor tuluy ka imah nini, rék ngilu solat saacan balik ka imah kolot.

Anjog ka golodok imah nini, ngahaja ngulincer liwat tukang da biasana panto tukang tara di tulak. Deukeut kandang hayam kaciri aya kelenci kameumeut nini, awakna montok ngan hanjakal huntuna téh rada coklat. Jorojoy inget caritaan ustad tadi bada subuh. Teu loba carita, asup ka jamban nini, nyokot sikat huntu jeung odol. Tuluy kelenci nini di tewak da lindeuk, huntuna di kosok méh jadi bodas, “Sugan jadi pahala yeuh” Kelenci ugal ugil, ku Uing dicekel pageuh.

Isukna Ma Nini gujrud, kelencina paéh, ngabudah. 

Sabtu, 14 Mei 2016

Manajemen Resiko Kredit (1)

Manajemen Resiko Kredit (1)

Definisi Kredit berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan adalah :

Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasrakan persetujuan atau  kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
Untuk prinsip syariah tinggal ditambahkan berdasarkan prinsip bagi hasil.

Sumber : transkartunblogspotdotcom
Masalah kunci dalam manajemen resiko kredit adalah :

Pertama, masalah informasi. Banyak informasi yang tidak informatif sehingga mempengaruhi kualitas keputusan dalam memberikan kredit yang akhirnya akan menimbulkan kredit bermasalah. Mengapa informasi awal begitu penting? Karena harus diyakini tentang informasi ASIMETRIS, artinya yang tahu tentang diri pribadi, usaha, kemampuan dan niat baik dari calon debitur adalah debitur itu sendiri sehingga bisa saja tersembunyi sifat moral hazard (perilaku tercela) dari pihak peminjam/debitur.

Kedua, masalah insentif.  Harus dibedakan antara debitur yang membayar angsuran tepat waktu dengan debitur yang tidak teratur membayar angsuran atau masuk kolektibilitas kurang lancar, diragukan dan macet.

Ketiga, masalah pemantauan. Pemantauan atau monitoring dilakukan sesaat setelah kredit tersebut cair dan diterima debitur, bukan pada saat ada potensi masalah. Jadi monitoring harus dilakukan sejak dini